Selamat! Dr Yoga Yuniadi Menjadi Profesor Aritmia FKUI

gb-hal09_3

2017 merupakan tahun bersejarah bagi Dr dr Yoga Yuniadi, SpJP(K). Betapa tidak, pada 22 Agustus lalu, Yoga resmi menyandang gelar profesor aritmia. Syukuran pengukuhan Prof Dr dr Yoga Yuniadi SpJP(K), FIHA, FAsCC sebagai guru besar bidang ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (Aritmia) Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dilaksanakan di Auditorium lantai 4 Gedung Satu RS Jantung Harapan Kita, Jakarta.
“Kemajuan di bidang aritmia belum bisa dinikmati secara luas oleh pasien-pasien di Indonesia karena sampai saat ini masih terdapat kendala besar dalam pelayanan aritmia di Indonesia, antara lain masih minimnya dokter subspesialis aritmia,” kata Yoga dalam siaran pers.
Sebenarnya, Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK) telah lama mengembangkan unit aritmia sejak awal 1990 untuk melayani para penderita gangguan irama jantung ini. Namun menurut Yoga, minat terhadap bidang aritmia masih minim. Yaitu dengan hanya ada 28 orang subspesialis aritmia dari 1.000 dokter spesialis jantung pembuluh darah yang ada saat ini. Jadi dalam kurun waktu 15 tahun, subspesialis aritmia hanya bertambah 26 orang saja.
“Aritmia seringkali dianggap sulit dipelajari karena harus dipahami dalam konteks mekanisme yang bersifat virtual. Struktur anatomi yang melatarbelakangi aritmia tidak kasatmata tetapi harus dibayangkan. Hal ini menjadikan aritmia unik dan membutuhkan upaya yang lebih banyak untuk mempelajarinya,” tutur Yoga.
Keadaan tersebut menyebabkan hanya sedikit para spesialis jantung dan pembuluh darah muda yang tertarik untuk belajar aritmia. Ditambah lagi apresiasi yang diberikan juga dirasakan masih tidak sepadan dibandingkan tingkat kesulitan dan risiko yang dihadapi seorang aritmologis.
Di Indonesia, epidemiologi aritmia tidak berbeda jauh dengan negara lain. Fibrilasi Atrium (FA) merupakan aritmia yang paling sering didapatkan di klinik. Tidak jarang stroke merupakan manifestasi klinis pertama dari FA. Dalam hal ini dokter ahli saraf menjadi titik masuk pertama menuju diagnosis FA. FA merupakan suatu penyakit terkait umur (aging disease). Prevalensi FA mencapai 1-2% dan akan terus meningkat dalam 50 tahun mendatang.
Yoga memaparkan data, sampai saat ini, implantasi device (alat pacu jantung, ICD dan CRT) di Indonesia masih sangat rendah (hanya 2 per sejuta penduduk), lebih rendah dari Singapura (185), Thailand (59), Malaysia (39). Bahkan lebih rendah dari Filipina (9) dan Myanmar (6). (Ref: Medtronic Marketing Research, 2012).
Oleh karena itu diperlukan lebih banyak dokter ahli aritmia, juga diperlukan terobosan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di tanah air. Oleh karena itu, Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) menginisiasi suatu program terobosan yang disebut dengan Integrated Implanter Crash Program (I2CP).
Yoga berharap integrated implanter crash program (I2CP) dapat terus digalakkan. Program ini terdiri dari (1) sepekan internet based learning yang diakhiri dengan ujian teori, (2) workshop dan wet lab, dan (3) proctorship 5 kasus di tempat masing-masing peserta.
“Dengan metoda ini telah dihasilkan 92 implanter baru dan 86 di antaranya aktif melakukan implantasi alat pacu jantung menetap. Saya optimis, tahun 2030 kita dapat memiliki 100 orang subspesialis aritmia yang aktif dan lebih banyak implanter untuk memberikan pelayanan yang lebih baik,” katanya lagi.

[Tim InaHeartnews]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s